Indahnya Prasangka Baik
Posted by silvi pada April 27, 2009
Dua orang laki-laki bersaudara bekerja pada sebuah pabrik kecap dan sama-sama tekun belajar Islam. Sama-sama mengamalkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari semaksimal mungkin. Mereka acap kali harus berjalan kaki untuk sampai ke rumah guru pengakiannya. Jaraknya sekitar 10 km dari rumah peninggalan orang tua mereka.
Suatu ketika sang kakak berdo’a memohon rejeki untuk membeli sebuah mobil supaya dapat dipergunakan untuk sarana angkutan dia dan adiknya, bila pergi mengaji. Allah SWT mengabulkannya, tak lama kemudian sebuah mobil dapat dia miliki karena mendapatkan bonus dari perusahaan dari tempatnya bekerja. Lalu sang kakak berdo’a memohon seorang istri yang sempurna, Allah SWT mengabulkannya, tak lama kemudian sang kakak bersanding dengan seorang gadis yang cantik serta baik akhlaknya.
Kemudian berturut-turut sang kakak berdo’a memohon kepada Allah SWT akan sebuah rumah yang nyaman, pekerjaan yang layak, dan lain-lain. Dengan itikad supaya bias lebih ringan dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dan Allah SWT selalu mengabulkan semua do’anya itu. Sementara itu, sang adik tidak ada perubahan sama sekali, hidupnya tetap sederhana, tinggal di rumah peninggalan orang tuanya yang dulu dia tempati bersama dengan kakaknya. Namun karena kakaknya sangat sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak dapat mengikuti pengajian, maka sang adik sering kali harus berjalan kaki untuk mengaji ke rumah guru mereka.
Suatu saat sang kakak merenungkan dan membandingkan perjalanan hidupnya dengan perjalanan hidup adiknya. Dia teringat bahwa adiknya selalu membaca selembar kertas saat dia berdo’a, menandakan adiknya tidak pernah hafal bacaan untuk berdo’a. lalu datanglah ia kepada adiknya untuk menasihati adiknya supaya selalu berdo’a kepada Allah SWT dan berupaya untuk membersihkan hatinya, karena dia merasa adiknya masih berhati kotor sehingga do’a-do’anya tiada dikabulkan oleh Allah SWT.
Sang adik terenyuh dan merasa sangat bersyukur sekali mempunyai kakak yang begitu menyayanginya, dan dia mengucapkan terima kasih kepada kakaknya atas nasihatnya itu.
Suatu saat sang adik meninggal dunia, sang kakak merasa sedih karena sampai meninggalnya sang adik itu tidak ada perubahan pada nasibnya sehingga dia merasa yakin kalau adiknya itu meninggal dalam keadaan kotor hatinya sehubungan do’anya tak pernah terkabul.
Sang kakak membereskan rumah peninggalan orang tuanya sesuai dengan amanah adiknya untuk dijadikan sebuah masjid. Tiba-tiba matanya tertuju pada selembar kertas yang terlipat dalam sajadah yang biasa dipakai oleh adiknya yang berisi tulisan do’a, diantaranya Al-Fatihah, shalawat, do’a untuk guru mereka, do’a selamat, dan ada kalimat akhir di do’anya. “Ya Allah. Tiada sesuatu pun yang luput dari pengetahuanMu. Ampunilah aku dan kakakku. Kabulkanlah segala do’a kakakku. Bersihkanlah hatiku dan berikanlah kemuliaan hidup untuk kakakku di dunia dan akhirat.”
Sang kakak berlinang air mata dan haru biru memenuhi dadanya, tak disangka ternyata adiknya tak pernah sekali pun berdo’a untuk memenuhi nafsu duniawinya.
Dikutip dari milis motivasi oleh Rahima
helayVeriBiar berkata
nalezy sprawdzic:)
silvi berkata
Tenang Bud . .
W blm sempet nii . .
klo lo mw ngasih bahan boleh . .
hhe . .
Blog Pelajar Indonesia berkata
So iye lu sil!!
wkkwkkokokk..
up date napa nih blog!!
ariyani fitri trikod 1 berkata
berprasangka baik, bagaikan hadiah dari yang Maha pemberi Kedamaian pada hati kita….
silvi berkata
Yup! Setuju…
Syukron yaw udh mampir..
Arif Budi Setyawan berkata
Berprasangka itu lebih baik untuk yang baik. Jangan biarkan hati kita dirasuki perasaan buruk.